Masjid Ikhwanul Mukminin

Bermula dari sebuah surau kecil yang telah mengalami dua kali perpindahan lokasi, masjid Ikhwanul Mukminin berdiri. Suasana keberagaman masyarakat Sungai Raya Dalam yang cinta pada agamanya. Dengan niat itu pulalah masyarakat berupaya mendirikan sebuah masjid.
Setelah lokasi tanah terpilih oleh para pemuda dan masyarakat, akhirnya tahun 1929 tokoh masyarakat Sungai Raya dalam berangkat ke Tanjung Saleh yang letaknya di seberang Sungai Kakap. Keberangkatan para tokoh masyarakat tersebut dikarenakan salah seorang pemuka masyarakat di daerah tersebut menjual rumahnya yang terbuat dari kayu belian dan kayu jenis tekam. Kemudian setelah disepakati harga, kayu dari rumah tersebut pun dibeli dan dibawa ke Sungai Raya Dalam. Dengan kayu-kayu dari rumah tersebut, para tokoh masyarakat Sungai Raya Dalam tempo dulu mendirikan masjid yang diberi nama masjid “Ikhwanul Mukminin”.
Pemberian nama “Ikhwanul Mukminin” tersebut memiliki kandungan yang sangat dalam. Tingginya semangat kebersamaa dan rasa gotong royong yang tanpa pamrih menjadikan masyarakat Sungai Raya Dalam terpaut dalam persatuan yang kokoh dan persaudaraan yang sejati. Hal tersebut tergambarkan dalam pembangunan masjid tersebut. Tidak hanya kaum lelaki yang bekerja, namun kaum ibu-ibu yang turut ambil bagian terutama dalam mempersiapkan makanan dan minuman bagi kaum pria yang bekerja.
Jarak tempuh dari Sungai Raya Dalam ke Tanjung Saleh yang memerlukan waktu dua hari dua malam dengan menggunakan tongkang pengangkut kelapa kering, tidak terlalu terasa berat atas adanya kaum ibu-ibu yang menyiapkan makanan dan minuman.
Makna yang terkandung sangat dalam itulah menjadi dasar pemikiran pemberian nama masjid itu dengan nama “Ikhwanul Mukminin” dengan maksud agar keberadaan masjid tersebut senantiasa memberikan nuansa persatuan dalam persaudaraan sekaligus nuansa persaudaraan dalam keadilan terutama bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Sumber persaudaraan itu harus bermula dari dorongan pribadi, kemauan yang betul-betul merdeka dan jiwa yang hanya mengenal Allah saja. Karena itu, Islam meletakkan keadilan berdampingan dengan ukhuwah (persaudaraan), dan persaudaraan itu sendiri tidak akan berdiri kokoh kecuali didasarkan atas keadilan.
Pendirian masjid berukuran 12×12 M2  pada tahun 1929-1930 termasuk besar ketika itu. Masjid ini juga termasuk salah satu masjid tertua di Pontianak, dengan masjid sebelumnya Masjid Syakirin, Masjid Taqwa Mariana dan Masjid Al Karim Kampung Saigon.
Pendirian masjid ketika itu juga dikarenakan umat Islam yang berada di Sungai Raya Dalam melaksanakan salat Jumat di Masjid Djami’ Sultan Abdurrachman yang dibangun oleh pendiri Kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurrachman Al-Kadri pada tanggal 23 Oktober 1771.
Diceritakan, umat muslim Sungai Raya Dalam ketika itu untuk melaksanakan salat Jumat di Masjid Djami’ dilakukan sejak pagi hari pukul 07.00. Mereka berangkat menggunakan sampan untuk melaksanakan salat Jumat dengan membawa hasil kebun mereka. Setelah salat Jumat, mereka singgah ke pasar untuk menjual hasil kebun mereka, mereka juga berbelanja untuk keperluan mereka di rumah selama satu minggu. Kehadiran masjid di kawasan Sungai Raya Dalam sekaligus memperoleh izin dari Sultan Muhammad ketika itu, disambut dengan suka cita dan rasa bangga oleh umat muslim di sekitarnya.
Sejak pertama kali dibangun pada tahun 1929 hingga 1999, Masjid Ikhwanul Mukminin sudah mengalami empat kali rehab. Rehab yang pertama dilakukan pada tahun 1956, rehab ke dua pada tahun 1975, dan rehab yang ketiga dilakukan pada tahun 1987. Rehab yang ke  empat dilakukan rehabilitasi total yaitu pada tanggal 1 Muharram 1420 H yang bertepatan dengan tanggal 16 April 1999 dimana peletakan batu pertama dilakukan salah seorang pendiri masjid, H Ali Lakana.
Dan kini, Masjid Ikhwanul Mukminin juga sedang melakukan pembangunan di samping masjid tersebut. Rencananya sebuah tower dengan tinggi sekitar 16 meter akan dibangun agar masyarakat bisa lebih mengetahui ketika sudah masuk waktu salat.
Masjid Ikhwanul Mukminin yang berada di Sungai Raya Dalam tersebut memiliki banyak kegiatan ketika bulan suci Ramadan. Hampir setiap malam diadakan kajian rutin mulai dari salat Magrib hingga salat Isya. Setiap hari, masjid tersebut menggelar buka puasa bersama dengan masyarakat sekitar mau pun masyarakat pendatang, bahkan setiap Subuh diadakan kuliah Subuh.
Masjid Ikhwanul Mukminin juga memiliki remaja masjid, berbagai kegiatan dilakukan remaja masjid tersebut. Pada bulan Ramadan, remaja masjid diperbantukan menjual juadah di depan masjid untuk memudahkan masyarakat sekitar mencari panganan berbuka. Setiap harinya selama bulan Ramadan, masjid digunakan oleh pihak sekolah mau pun masyarakat untuk diadakan pengajian, pesantren kilat dan lainnya.
Posted in Masjid | Tagged , , | Leave a comment

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurahman adalah masjid terbesar di Pontianak dan masjid pertama yang berdiri di Provinsi Kalimantan Barat. Masjid ini seperti halnya Istana Kadriah merupakan peninggalan Kerajaan Pontianak yang terletak di Kampung Dalam Bugis.

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurahman dan Istana Kadriah merupakan cikal bakal Kota Pontianak pada tahun 1771. Masjid Jami sendiri awalnya hanya sebuah langgar sederhana. Menurut hikayat, masjid ini mulai dibang un pada masa kepemimpinan Sultan Syarif Usman (1819-1855), sultan ketiga Kesultanan Pontianak. Peletakan batu pertama pondasi bangunan dilakukan pada tahun 1821.

Penjelasan mengenai hal tersebut dapat dilihat dari inskripsi huruf Arab di atas mimbar masjid. Di sana tertulis bahwa Masjid Jami dibangun oleh Sultan Syarif Usman pada hari Selasa bulan Muharam tahun 1237 Hijriah. Namun, hingga mencapai bentuk yang terlihat saat ini, masjid mengalami berbagai penyempurnaan yang dilakukan sultan-sultan berikutnya.

Pemberian nama Masjid Jami Sultan Abdurrahman adalah penghormatan kepada pendiri Kota Pontianak, yakni Sultan Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie, sultan pertama di Kesultanan Pontianak. Masjid ini juga menjadi saksi sejarah berbagai proses perubahan di Kota Pontianak dan sekitarnya.

Secara keseluruhan, bentuk bangunan masjid banyak mendapat pengaruh dari arsitektur Jawa, Timur Tengah, Melayu, dan Eropa. Hal ini terlihat dari bentuk atap undak layaknya tajug pada arsitektur Jawa dengan bentuk mahkota atau genta khas Eropa di bagian ujungnya. Pengaruh Eropa lainnya tampak pada pintu dan jendela masjid yang cukup besar. Adapun ciri Timur Tengah terlihat pada mimbar yang berbentuk kubah.

Bentuk rumah berkolong atau kerap disebut rumah panggung yang juga diterapkan pada bangunan masjid merupakan gaya bangunan ala Melayu. Lantai masjid diberi jarak sekitar satu setengah meter dari permukaan tanah. Dengan demikian, meskipun berada tepat di atas Sungai Kapuas, masjid tidak pernah terkendala banjir. Kini bagian kolong masjid telah dicor semen untuk mengantisipasi amblas mengingat struktur tanah yang labil dan sebagian bergambut.

Material konstruksi didominasi oleh kayu belian. Kayu tersebut dapat dilihat pada pagar, lantai, dinding, menara, beduk besar yang terdapat di serambi masjid, serta enam tiang utama penyangga ruang masjid yang telah berusia lebih dari 170 tahun.

Masjid tua ini kini berdiri kokoh dan tidak mengubah tampilan lamanya yang orisinal demi mempertahankan eksistensi sejarah.

Posted in Masjid | Tagged , , | Leave a comment

Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al Aqsa dan Masjid Al Manar) adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus  dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu.

Menara Kudus merupakan bangunan monumental yang bernilai arkeologis dan historis tinggi. Dari aspek arkeologis, Menara Kudus merupakan bangunan kuno hasil akulturasi kebudayaan Hindu-Jawa dan Islam. Menara Kudus dibangun oleh Syeh Ja’far Shodiq (Sunan Kudus, salah seorang dari Wali Songo)  yang disimbolkan dalam candrasengkala “Gapuro rusak ewahing jagad” . Bentuk konstruksi dan gaya arsitektur Menara Kudus, yang tingginya sekitar 17 meter.

Sejarah

Sejarah berdirinya masjid Menara Kudus, tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai pendiri dan pemrakarsa. Sebagaimana para wali songo yang lainnya, Sunan Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Diantaranya, beliau mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam ditengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Budha. Pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, salah satunya dapat kita lihat pada masjid Menara Kudus ini.

Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari enkripsi ( sandi ) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrab masjid yang ditulis dalam bahsa Arab

Arsitektural

Masjid Menara Kudus ini terdiri dari 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini tidak sesuai aslinya, lebih besar dari semula karena pada tahun 1918 – an telah direnovasi. Di dalamnya terdapat kolam masjid, kolam yang berbentuk “padasan” tersebut merupakan peninggalan jaman purba dan dijadikan sebagai tempat wudhu

Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera, yang terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai “Lawang kembar“.

Di komplek Masjid juga terdapat pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga.

Menara Masjid

Menara Kudus itu tingginya sekitar 18 meter dan di bagian dasarnya berukuran 10 x 10 m, di sekelilingnya dihias dengan piringan-piringan bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah banyaknya. 20 buah diantaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sedang 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Dalam menara ada tangganya yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Tentang bangunannya dan hiasannya jelas menunjukkan hubungannya dengan kesenian Hindu Jawa. Karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian : (1) Kaki (2) Badan dan (3) Puncak bangunan. Dihiasi pula dengan seni hias, atau artefix ( hiasan yang menyerupai bukit kecil ).

Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk.

Pada bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

Posted in Masjid | Tagged , | Leave a comment

Masjid Demak

Sejarah Masjid Demak

Masjid Agung Demak adalah sebuah mesjid yang tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak.

Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor),sultan Demak ke-2 (1518-1521) pada tahun 1520.

Selayang Pandang

Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro. Banyak masyarakat memercayai masjid ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal dengan sebutan Walisongo (Wali Sembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia dan bukti kemegahan Kesultanan Demak Bintoro.

Masjid Agung Demak didirikan dalam tiga tahap. Tahap pembangunan pertama adalah pada tahun 1466. Ketika itu masjid ini masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel. Pada tahun 1477, masjid ini dibangun kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Pada tahun 1478, ketika Raden Fatah diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid ini direnovasi dengan penambahan tiga trap. Raden Fatah bersama Walisongo memimpin proses pembangunan masjid ini dengan dibantu masyarakat sekitar. Para wali saling membagi tugasnya masing-masing. Secara umum, para wali menggarap soko guru yang menjadi tiang utama penyangga masjid. Namun, ada empat wali yang secara khusus memimpin pembuatan soko guru lainnya, yaitu: Sunan Bonang memimpin membuat soko guru di bagian barat laut; Sunan Kalijaga membuat soko guru di bagian timur laut; Sunan Ampel membuat soko guru di bagian tenggara; dan Sunan Gunungjati membuat soko guru di sebelah barat daya.

 

Keistimewaan

Luas keseluruhan bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 m2. Di samping bangunan utama, juga terdapat serambi masjid yang berukuran 31 x 15 m dengan panjang keliling 35 x 2,35 m; bedug dengan ukuran 3,5 x 2,5 m; dan tatak rambat dengan ukuran 25 x 3 m. Serambi masjid berbentuk bangunan yang terbuka. Bangunan masjid ditopang dengan 128 soko, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.

Masjid ini memiliki keistimewaan berupa arsitektur khas ala Nusantara. Masjid ini menggunakan atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki. Atap limas ini berbeda dengan umumnya atap masjid di Timur Tengah yang lebih terbiasa dengan bentuk kubah. Ternyata model atap limas bersusun tiga ini mempunyai makna, yaitu bahwa seorang beriman perlu menapaki tiga tingkatan penting dalam keberagamaannya:iman, Islam, dan ihsan. Di samping itu, masjid ini memiliki lima buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, yang memiliki makna rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Masjid ini memiliki enam buah jendela, yang juga memiliki makna rukun iman, yaitu percaya kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kiamat, dan qadha-qadar-Nya.

Bentuk bangunan masjid banyak menggunakan bahan dari kayu. Dengan bahan ini, pembuatan bentuk bulat dengan lengkung-lengkungan akan lebih mudah. Interior bagian dalam masjid juga menggunakan bahan dari kayu dengan ukir-ukiran yang begitu indah.

Bentuk bangunan masjid yang unik tersebut ternyata hasil kreativitas masyarakat pada saat itu. Di samping banyak mengadopsi perkembangan arsitektur lokal ketika itu, kondisi iklim tropis (di antaranya berupa ketersediaan kayu) juga mempengaruhi proses pembangunan masjid. Arsitektur bangunan lokal yang berkembang pada saat itu, seperti joglo, memaksimalkan bentuk limas dengan ragam variasinya.

Masjid Agung Demak berada di tengah kota dan menghadap ke alun-alun yang luas. Secara umum, pembangunan kota-kota di Pulau Jawa banyak kemiripannya, yaitu suatu bentuk satu-kesatuan antara bangunan masjid, keraton, dan alun-alun yang berada di tengahnya. Pembangunan model ini diawali oleh Dinasti Demak Bintoro. Diperkirakan, bekas Keraton Demak ini berada di sebelah selatan Masjid Agung dan alun-alun.

Di lingkungan Masjid Agung Demak ini terdapat sejumlah benda-benda peninggalan bersejarah, seperti Saka Tatal, Dhampar Kencana, Saka Majapahit, dan Maksurah. Di samping itu, di lingkungan masjid juga terdapat komplek makam sultan-sultan Demak dan para abdinya, yang terbagi atas empat bagian:

 

  • akam Kasepuhan, yang terdiri atas 18 makam, antara lain makam Sultan Demak I (Raden Fatah) beserta istri-istri dan putra-putranya, yaitu Sultan Demak II (Raden Pati Unus) dan Pangeran Sedo Lepen (Raden Surowiyoto), serta makam putra Raden Fatah, Adipati Terung (Raden Husain).
  • Makam Kaneman, yang terdiri atas 24 makam, antara lain makam Sultan Demak III (Raden Trenggono), makam istrinya, dan makam putranya, Sunan Prawoto (Raden Hariyo Bagus Mukmin).
  • Makam di sebelah barat Lasepuhan dan Kaneman, yang terdiri atas makam Pangeran Arya Penangsang, Pangeran Jipang, Pangeran Arya Jenar, Pangeran Jaran Panoleh.
  • Makam lainnya, seperti makam Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Benowo, dan Singo Yudo.
Posted in Masjid | Tagged , | Leave a comment

Islamic Center Samarinda

Masjid Islamic Center Samarinda adalah masjid yang terletak di  Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia, yang merupakan masjid termegah dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal. Dengan latar depan berupa tepian sungai Mahakam, masjid ini memiliki menara dan kubah besar yang berdiri tegak.

Masjid ini memiliki luas bangunan utama 43.500 meter persegi. Untuk luas bangunan penunjang adalah 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi. Sedangkan luas lantai mezanin (balkon) adalah 5.290 meter persegi.

Dan menurut beberapa sumber, masjid ini menjadi salah satu masjid termegah,dan indah yang ada di Indonesia dan Asia tenggara.

Posted in Masjid | Tagged , | Leave a comment

Masjid Istiqlal – Jakarta

Masjid Istiqlal Jakarta merupakan salah satu masjid terbesar yang ada di Indonesia, bahkan menurut beberapa informasi adalah salah satu Masjid Terbesar di Asia Tenggara.

Masjid Istiqlal berada di timur laut lapangan Monumen Nasional (Monas). Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai. Masjid ini mempunyai kubah yang diameternya 45 meter. Masjid ini mampu menampung orang hingga lebih dari 200.000 (dua ratus ribu) jamaah.

Luas tanah 12 ha, dan  Luas bangunan 7 ha.

Posted in Masjid | Tagged , | Leave a comment

Masjid Cheng Ho – Surabaya

masjid cheng ho – pasuruan surabaya

“Senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal itu, yang banyak adalah ‘senjata budi’ yang dipersembahkan kepada raja-raja yang diziarahi.”

Masjid Cheng Ho Surabaya

Itulah tulisan Hamka, seorang tokoh Islam Indonesia dalam majalah Star Weekly, mengomentari tentang kebesaran armada terbesar abad ke-15 pimpinan Cheng Ho. Petualang Christophorus Columbus yang dikenal hebat karena berhasil menemukan benua Amerika tahun 1492 akan menjadi kecil bila dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh armada Cheng Ho. Ada banyak cerita lisan dan tulisan tentang tokoh besar bahariawan dunia ini yang sanggup membuat Anda berdecak kagum. Sosoknya bahkan  seakan tampil sebagai manusia yang nyaris sempurna yang hanya pantas ada di alam mitos. Jasa terbesar Cheng Ho adalah telah menjalin persahabatan antara negeri Tiongkok (China) dengan negara atau kerajaan di belahan lain di dunia ini dengan pertukaran kebudayaan yang masih dapat Anda saksikan hingga dewasa ini, termasuk di Nusantara.

Dari pelayaran luar biasa itu menghasilkan buku “Zheng He’s Navigation Map” yang telah mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Di dalamnya memuat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Karena ekspedisi laut Cheng Ho-lah maka jalur perdagangan Tiongkok dan dunia Timur dan Barat berubah, yaitu tidak sekadar bertumpu pada ‘Jalur Sutera’ antara Beijing dan Bukhara.

Nah, sekarang  ada memori yang menggugah tentang Cheng Ho saat Anda berkunjung ke Surabaya. Sebuah bangunan masjid indah di tengah kota bernama Masjid Cheng Ho. Masjid ini adalah bentuk penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho yang telah berjasa dalam misi politik perdamaian bahari, perdagangan, dan akulturasi budaya yang mengagumkan.

Masjid Cheng Ho adalah tempat yang tepat untuk Anda yang ingin berwisata arsitektur sekaligus wisata budaya secara bersamaan. Anda akan menikmati keindahan ornamen China yang berpadu dengan nuansa lokal di masjid ini. Arsitekturnya menyerupai kelenteng secara jelas menunjukkan identitas Muslim Tionghoa (Islam China). Masjid Cheng Ho merupakan masjid yang memiliki keunikan tersendiri dibangun dengan perpaduan unsur budaya China dan budaya Islam. Cheng Ho datang ke Surabaya abad ke-15, karena masa itu Surabaya merupakan pelabuhan penting. Selain di Surabaya, di Palembang juga ada masjid serupa dengan nama Masjid Cheng Ho Palembang atau Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya Palembang.

Masjid Cheng Ho didirikan atas prakarsa pengurus PITI (Pembina Imam Tauhid Islam), pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur, dan tokoh masyarakat China di Surabaya. Diarsiteki Ir. Abdul Aziz dengan mengambil inspirasi dari Masjid Niu Jie di Beijing, China yang dibangun tahun 996 Masehi. Bentuknya mirip kelenteng tempat ibadah agama Tri Dharma. Warna masjid mencerminkan unsur budaya dari China seperti merah, kuning, biru dan hijau. Dalam kepercayaan Tionghoa, warna merah adalah simbol kebahagiaan, warna kuning adalah simbol kemasyuran, warna biru adalah simbol harapan, dan warna hijau adalah simbol kemakmuran. Terdapat relief naga dan patung singa dari lilin, serta di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk. Kompleks Masjid Muhammad Cheng Ho dibangun di atas tanah seluas 3.070 meter persegi.

Masjid Cheng Ho Surabaya

Masjid Cheng Ho dikenal sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama muslim Tionghoa. Bangunannya bernuansa etnik dan antik cukup menonjol dibandingkan bentuk masjid lain pada umumnya di Indonesia.  Masjid Cheng Ho memiliki kolom sederhana dan dinding dilapisi keramik bermotif batu bata. Di beberapa bagian ada ornamen horizontal berwarna hijau tua dan biru muda. Pewarnaan itu diulang juga pada bentukan kuda-kuda pada bagian interior. Atap utama masjid ini bersusun tiga lapis menyerupai bentuk pagoda. Pada puncaknya terdapat lafaz “Allah”. Sedangkan mahkota pada ujung atap lebih condong pada gaya arsitektur Hindu-Jawa. Ada juga bukaan lengkung pada dinding, sebuah ciri khas arsitektur India dan Arab. Pada bagian dalam masjid, terdapat podium guna menghindari kelembapan. Podium Masjid Cheng Ho dibagi dua, tinggi dan rendah. Podium yang lebih tinggi terletak pada bangunan utama. Sedangkan yang rendah berada di sayap kanan dan kiri bagian utama masjid. Masjid Muhammad Cheng Ho juga memiliki 8 sudut bagian atas bangunan utama. Ketiga ukuran atau angka itu ada maksudnya. Angka 11 untuk ukuran Kabah. Angka 9 melambangkan Wali Songo, serta angka 8 melambangkan Pat Kwa yaitu angka keberuntungan dalam budaya Tionghoa. Anak tangga di bagian serambi masjid berjumlah 5, representasi rukun Islam. Sedangkan anak tangga di bagian dalam masjid berjumlah 6, representasi rukun iman. Ruangan yang dipergunakan oleh imam untuk memimpin sholat dan khotbah didesain seperti pintu gereja untuk menunjukkan perpaduan arsitektur dan penghormatan perbedaan agama. Masjid ini dibangun dengan konsep tanpa pintu sebagai simbol keterbukaan. Seakan memberi pesan bahwa siapa pun, dari etnis apapun, berhak menggunakan masjid ini untuk beribadah.

Masjid Muhammad Cheng Ho dibangun atas gagasan H. M. Y. Bambang Sujanto Pembina Imam Tauhid Islam (PITI).  Dibangun 10 Maret 2002 dan rampung serta diresmikan 13 Oktober 2002. Peletakan batu pertama tanggal 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra Mikraj. Sedangkan pembangunannya dilaksanakan 10 Maret 2002. Masjid ini diresmikan Menteri Agama Republik Indonesia saat itu Prof. Dr. Said Agil Husain Al-Munawar, MA. tanggal 28 Mei 2003. Didirikan diatas tanah seluas 21 x 11 meter persegi, luas bangunan utama 11 x 9 meter persegi. Ukurannya sekitar 200 meter persegi dan mampu menampung 200 jamaah. Dana yang digunakan untuk pembangunanya adalah total 3,3 miliar rupiah.  Masjid ini dikelola PITI Korwil Jawa Timur dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia.

Cheng Ho sendiri merupakan bahariawan terbesar sepanjang sejarah dan tidak bisa dilepaskan dengan Islam dan Nusantara. Kisah pelayarannya tidak hanya menorehkan jejak sejarah yang mengagumkan di setiap negara yang dilaluinya, tetapi juga telah mengilhami ratusan karya ilmiah baik fiksi maupun non-fiksi serta penemuan berbagai teknologi navigasi kelautan dan perkapalan di Eropa.

Kapal yang ditumpangi Cheng Ho yaitu “Kapal Pusaka” merupakan kapal terbesar abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan lebar 18 zhang (56 m). Lima kali lebih besar daripada kapal Columbus. Menurut sejarawan, JV Mills kapasitas kapal tersebut 2500 ton. Model kapal itu menjadi inspirasi petualang Spanyol dan Portugal. Desainnya megah, tahan terhadap badai, serta dilengkapi teknologi navigasi canggih pada masanya seperti kompas magnetik. Armada pelayarannya berjumlah 62 kapal besar dengan 225 junk atau kapal berukuran lebih kecil dengan 27.550 orang perwira dan prajurit termasuk di dalamnya ahli astronomi, politikus, pembuat peta, ahli bahasa, ahli geografi, para tabib, juru tulis dan intelektual agama.

Cheng Ho mengorganisir armada dengan rapi. Kapal-kapalnya terdiri atas Kapal Pusaka (induk), kapal kuda (untuk mengangkut barang-barang dan kuda), kapal perang, kapal bahan makanan, dan kapal duduk (kapal komando), serta kapal-kapal pembantu. Awak kapalnya ada yang bertugas di bagian komando, teknis navigasi, militer, dan logistik.

Masjid Cheng Ho Surabaya

Sejak 1405 hingga wafatnya 1433, Cheng Ho telah melakukan pelayaran antarbenua selama 7 kali berturut-turut dari 37 negara  dalam kurun waktu 28 tahun. Berbagai negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika pernah disinggahinya. Pelayarannya 87 tahun lebih awal dibanding Columbus. Juga lebih dulu juga dibanding bahariwan dunia lainnya seperti Vasco da Gama yang berlayar dari Portugis ke India tahun 1497. Ferdinand Magellan yang merintis pelayaran mengelilingi bumi pun kalah duluan 114 tahun. Bila dijumlah dengan kapal kecil, rata-rata pelayarannya mengerahkan 200-an kapal. Sementara Columbus, ketika menemukan benua Amerika  mengerahkan 3 kapal dan awak 88 orang. Berbeda dengan bahariwan Eropa yang berbekal semangat imperialis, Armada raksasa Cheng Ho tidak berniat menduduki tempat-tempat yang disinggahinya. Mereka hanya mempropagandakan kejayaan Dinasti Ming, menyebarluaskan pengaruh politik dan agama ke negeri asing, serta mendorong perniagaan Tiongkok.

Armada Cheng Ho mengunjungi berbagai pelabuhan di Nusantara dan Samudera Hindia sampai ke Sri Langka, Quilon (Selandia Baru), Kocin, Kalikut, Ormuz, Jeddah, Magadisco dan Malindi. Dari Campa hingga India, dan dari sepanjang Teluk Persia dan Laut Merah hingga pesisir Kenya. Dilihat dari kuantitas dan waktu, secara jelas ekspedisi Cheng Ho jauh melampaui para pelaut dan penjelajah mana pun di Eropa seperti Chistopher Columbus, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, atau Francis Dranke.

Ketika berkunjung ke Samudera Pasai, Cheng Ho menghadiahi lonceng raksasa Cakradonya kepada Sultan Aceh. Lonceng tersebut saat ini tersimpan di Museum Banda Aceh. Tempat lain di Sumatera yang dikunjungi adalah Palembang dan Bangka. Selanjutnya mampir di Pelabuhan Bintang Mas (kini Tanjung Priok). Tahun 1415 mendarat di Muara Jati Cirebon). Beberapa cindera mata khas Tiongkok dipersembahkan kepada Sultan Cirebon. Sebuah piring bertuliskan Ayat Kursi saat ini masih tersimpan baik di Kraton Kasepuhan Cirebon. Ketika menyusuri Laut Jawa, Wang Jinghong yang merupakan kepercayaan Cheng Ho mengalami sakit keras sehingga memilih menetap di Pantai Simongan, Semarang. Mereka tinggal di sebuah goa, sebagian lagi membuat pondokan. Wang yang kini dikenal dengan sebutan Kiai Jurumudi Dampo Awang, akhirnya menetap dan menjadi cikal bakal keberadaan warga Tionghoa di sana. Wang juga mengabadikan Cheng Ho menjadi sebuah patung  yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong. Selain itu membangun Kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu. Perjalanan di Tuban (Jawa Timur) kepada warga pribumi, Cheng Ho mengajarkan tata cara pertanian, peternakan, pertukangan, dan perikanan. Hal yang sama juga dilakukan sewaktu singgah di Gresik. Lawatan di Surabaya, Cheng Ho mendapat kehormatan menyampaikan khotbah di hadapan warga Surabaya yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Kunjungan dilanjutkan ke Mojokerto yang saat itu menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Di kraton, Raja Majapahit, Wikramawardhana, berkenan mengadakan pertemuan dengan rombongan Cheng Ho.

Tujuan ekspedisi Cheng Ho adalah memperkenalkan dan menguatkan kebesaran  Dinasti Ming ke seluruh dunia  agar negara-negara lain mengakui kebesaran Kaisar Tiongkok sebagai Putra Dewata atau “The Son of Heaven”. Selain itu juga untuk menyebarkan agama Islam dan sekaligus memberi dukungan bagi imigran Tionghoa agar menjalin hubungan akrab dengan penduduk setempat. Itu dikarenakan banyak pedagang asal China yang beragama Islam bermukim di wilayah pantai utara Jawa. Dalam dakwahnya, Cheng Ho menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang dikunjunginya. Cheng Ho sangat menanamkan rasa persaudaraan pada setiap daerah yang dikunjunginya seperti membangun tempat peribadatan yang menunjukkan adanya sinkretisme antara Islam, budaya lokal, dan Tionghoa.

Posted in Masjid | Tagged , | Leave a comment

Masjid Sunan Ampel

Masjid Sunan Ampel

Bagi peziarah atau peminat wisata religi maka kawasan Sunan Ampel sangatlah dikenal. Masjid ini adalah masjid yang paling terkenal dan suci bagi umat Muslim di Surabaya, setelah Masjid Akbar Surabaya. Tepat di belakang Masjid Ampel terdapat kompleks makam Sunan Ampel yang meninggal pada 1481. Di kawasan ini ada yang menarik yaitu keberadaan Kampung Arab yang sebagian besar ditempati keturunan Arab Yaman dan Cina yang sudah menetap ratusan tahun untuk berdagang. Suasana kehidupan para pedagang ini nyaris seperti suasana di Makkah.

Saat memasuki bulan Ramadhan, Masjid Agung Sunan Ampel menjadi salah satu kawasan yang paling dicari. Selama Ramadhan, jumlah pengunjung meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa yang rata-rata mencapai 2.000 orang. Pengunjung akan semakin banyak pada saat ’maleman’ (malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 Ramadhan) dengan jumlah di atas 10 ribu orang, bahkan dapat mencapai 20 ribu orang. Selain niat ingin menjalankan salat dan dzikir di tempat yang tenang, banyak yang datang untuk ziarah ke makam Sunan Ampel. Bahkan wisman yang datang juga ada yang berasal dari China, Prancis, Belanda, Italia, Malaysia, Saudi Arabia, Jepang, Brunei Darussalam, Filipina, Jerman, Yunani, Selandia Baru, Korea, dan Jepang. Umumnya mereka melihat bentuk bangunan masjid Ampel yang dibangun sejak 1421, kemudian mereka juga berziarah ke makam Sunan Ampel.

Masjid Ampel didirikan tahun 1421 oleh Sunan Ampel, dibantu sahabat karibnya Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji, serta santrinya.  Masjid ini dibangun di atas sebidang tanah seluas 120 x 180 meter persegi di Desa Ampel (sekarang Kelurahan Ampel), Kecamatan Semampir Surabaya atau sekitar 2 km ke arah Timur Jembatan Merah. Tidak disebut kapan selesainya pembangunan Masjid Ampel ini. Sunan Ampel juga mendirikan Pondok Pesantren Ampel. Sejak tahun 1972 Kawasan Masjid Agung Sunan Ampel telah ditetapkan menjadi tempat wisata religi oleh Pemkot Surabaya.

Ampel adalah sebuah kawasan di bagian utara Kota Surabaya dimana mayoritas penduduknya merupakan etnis Arab. Di kawasan ini kental dengan suasana Timur Tengah dan pasarnya yang menjual barang dan makanan khas Timur Tengah. Pusat kawasan Ampel adalah Masjid Ampel yang terletak di Jalan Ampel Suci 45 atau Jl. Ampel Masjid 53 dan didirikan pada abad ke-15. kawasan Ampel merupakan salah satu daerah kunjungan wisata religi di Surabaya. Apabila Anda ingin berbelanja barang atau makanan khas Timur Tengah maka datanglah ke Masjid Ampel.

Masjid Sunan Ampel yang dibangun dengan gaya arsitektur Jawa kuno dan nuansa Arab Islami. Masjid ini masih dipengaruhi dengan alkuturisasi dari budaya lokal dan Hindu-Budha lewat arsitektur bangunannya. Di masjid inilah saat itu sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan wali dari berbagai daerah di Jawa untuk membicarakan ajaran Islam sekaligus membahas metode penyebarannya di Pulau Jawa.

Masjid Ampel berbahan kayu jati yang didatangkan dari beberapa wilayah di Jawa Timur dan diyakini memiiki ‘karomah’. Seperti disebut dalam cerita masyarakat, saat pasukan asing menyerang Surabaya dengan senjata berat dari berbagai arah dan menghancurkan kota Surabaya namun tidak menimbulkan kerusakan sedikitpun pada Masjid Ampel bahkan seolah tidak terusik.

Sunan Ampel adalah salah satu wali songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Raden Mohammad Ali Rahmatullah merupakan seorang figur yang alim, bijak, berwibawa dan banyak mendapat simpati dari masyarakat. Sunan Ampel diperkirakan lahir tahun 1401 di Champa, Kamboja. Sejarah mencatat, Sunan Ampel adalah keturunan dari Ibrahim Asmarakandi. Salah satu Raja Champa yang yang kemudian menetap di Tuban, Jawa Timur. Saat berusia 20 tahun, Raden Rachmat memutuskan untuk pindah ke Tanah Jawa, tepatnya di Surabaya yang ketika itu merupakan daerah kekuasaan Majapahit di bawah Raja Brawijaya yang dipercaya sudah beragama Islam ketika berusia lanjut itu. Di usianya 20 tahun, Sunan Ampel sudah dikenal pandai dalam ilmu agama, bahkan dipercaya Raja Brawijaya untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya. Tugas khususnya adalah untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit. Untuk itu Raden Rachmat dipinjami oleh Raja Majapahit berupa tanah seluas 12 hektar di daerah Ampel Denta atau Surabaya untuk syiar agama Islam. Karena tempatnya itulah, Raden Rachmat kemudian akrab dipanggil Sunan Ampel. Sunan Ampel memimpin dakwah di Surabaya dan bersama masyarakat sekitar membangun masjid untuk media dakwahnya yang kini dikenal sebagai Masjid Ampel. Di tempat inilah Sunan Ampel menghabiskan masa hidupnya hingga wafat tahun 1481 dan makamnya terletak di sebelah kanan depan masjid Ampel.

Masjid Ampel selalu dijaga dan dirawat kebersihannya hingga kini. Saat ini Masjid Ampel ditangani nadzir yang baru dibentuk sekitar awal tahun 1970-an. Pertama kali bertindak sebagai nadzir Masjid Ampel adalah almarhum KH Muhammad bin Yusuf dan diteruskan oleh KH Nawawi Muhammad hingga tahun 1998. Sepeninggal KH Nawawi Muhammad hingga sekarang ini nadzir Masjid Ampel belum resmi dibentuk. Yang ada sekarang adalah pelanjut nadzir yang dijabat oleh KH Ubaidilah. Adapun Ketua Takmir Masjid Ampel adalah, H. Mohammad Azmi Nawawi.

Posted in Masjid | Tagged , | Leave a comment

Masjid Menara Kampung Melayu

Masjid Menara Kampung Melayu

Jika Anda berkunjung ke Semarang dan gemar mengunjungi tempat bersejarah maka Masjid Layur atau juga biasa di sebut Masjid Menara Kampung Melayu adalah salah satu lokasi yang layak di kunjungi. Usianya yang sudah lebih dari dua abad menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Semarang.

Cukup mudah untuk menemukan lokasi masjid tua ini. Dari arah Pasar Johar mengikuti jalur putar yang menuju arah Stasiun Tawang. Dari rel kereta api di depan Jalan Layur, menara masjid sudah bisa terlihat dari kejauhan. Lokasi perkampungan masjid di sebut Kampung Melayu karena dahulu kawasan tersebut mayoritas dihuni oleh masyarakat ras Melayu

Masjid Menara dibangun tahun 1802 oleh ulama Arab Hadramaut (Yaman). Bentuk dan struktur bangunan masjid adalah bangunan dua lantai, atap berbentuk meru (pengaruh Demak). Lantai masjid menggunakan material kayu, pondasi menggunakan umpak batu bata dengan kedalaman tiga meter dan lebar satu meter.

Hal yang unik dari masjid ini adalah bentuk bangunan yang kental dengan bangunan arsitektur gaya Timur Tengah. Hal tersebut tampak pada menara yang berdiri kokoh di depan pintu masuk masjid. Adapun bangunan utama masjid bergaya khas Jawa dengan atap masjid susun tiga.

Dari gaya arsitekturnya, Masjid Menara merupakan percampuran dari tiga budaya yakni, Jawa, Melayu, dan Arab. Dari segi keasliannya, Masjid Menara masih seperti pertama kali dibuat. Hanya ada sedikit perbaikan dan penggantian pada bagian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola di sisi kanan masjid.

Bangunan induk dan menara masjid mengalami transformasi bentuk, karena adanya pengurukan lantai sekitar dua ratus centimeter. Bangunan induk masjid di lantai satu, tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah, maka pada lantai dua terdapat perluasan ruangan yaitu di sisi timur laut dan tenggara.

Konstruksi dan detail masjid masih asli dan terawat dengan baik. Biaya perawatan masjid diperoleh dari bangunan – bangunan yang diwakafkan untuk kepentingan masjid.

Selain bentuk bangunan yang unik, Masjid Menara juga menyimpan harta lain yang tak ternilai, yaitu kitab – kitab kuno, yang konon dibawa oleh para habib untuk menyebarkan agama Islam di Semarang sekitar pada abad 18. Kitab – kitab tersebut masih menggunakan bahasa dan tulisan Arab asli dan dibacakan pada acara – acara khusus. Kitab tersebut hanya boleh dibaca dan didengar oleh kalangan Islam ortodok

Hingga saat ini, masjid yang sudah berusia lebih dari dua abad ini masih berdiri kokoh dan berfungsi sebagai tempat ibadah. Ancaman serius bangunan masjid ini berupa banjir dan rob yang sering terjadi di kawasan Kampung Melayu.

Posted in Masjid | Tagged , | Leave a comment

Masjid Kauman Semarang

Masjid Kauman – Semarang

Masjid Kauman termasuk dalam daftar masjid tua di tanah Jawa. Letaknya berdekatan dengan Pasar Johar, Semarang. Dahulu,  kompleks ini merupakan alun-alun tempat berkumpul warga Semarang. Hingga saat ini, bangunan Masjid Kauman tetap berdiri kokoh meskipun lingkungan jalan di sekitarnya telah padat dengan kios, pedagang kaki lima, dan tempat angkot menunggu penumpang.

Masjid Kauman didirikan pada awal abad ke-16. Pendiri masjid itu ialah Kiai Ageng Pandanaran yang kemudian mendirikan masjid lagi di sekitar Bubakan, yang menjadi tempat kabupaten setelah hijrah akibat pemberontakan orang-orang China yang dikenal dengan Perang Semarang (1742).

Masjid Kauman mengalami renovasi berkali-kali. Kiai Adipati Surohadimenggolo III, sebagai Bupati Semarang kala itu, mengganti masjid itu menjadi masjid yang lebih besar pada 1759-1760. Pembangunan itu diperingati dengan tiga buah inskripsi yang kini masih tertempel di gapura utama masjid yang bertuliskan huruf Jawa, Latin, dan Arab.

Tulisan di prasasti tersebut masih sangat jelas terbaca walaupun sudah usang dimakan usia. Hal ini sangat menarik untuk dikaji bahwa masjid ini adalah salah satu masjid besar dan berpengaruh dizamannya. Masjid ini juga banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah. Hal ini menandakan bahwa Semarang sejak dulu merupakan salah satu kota besar sekaligus kota pelabuhan yang maju.

Saat RM Tumenggung Ario Purboningrat berkuasa pada 1867, ia merenovasi masjid tersebut. Kemudian pada 23 April 1889 dengan bantuan dari Asisten Residen Semarang GI Blume dan Bupati R Tumenggung Cokrodipuro, masjid itu lagi-lagi direnovasi. Arsitek berkebangsaan Belanda GA Gambier dipercaya untuk menangani pekerjaan itu. Masjid selesai di renovasi tanggal 23 November 1890. AH Plas dalam tulisannya Van’t Verjongde Semarang En’t Verjongde Semarang 1911 menjuluki Masjid Kauman sebagai de fraii misigit atau sebuah masjid yang indah.

Meskipun Semarang sekarang telah memiliki Masjid Agung Jawa Tengah yang lebih megah dan besar, keberadaan Masjid Kauman tetap dipertahankan. Sampai sekarang, Masjid Kauman tetap dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan ritual Dugderan, peringatan awal bulan Ramadan. Sebuah tradisi yang dilakukan secara turun-temurun sejak dahulu kala.

Posted in Masjid | Tagged , | Leave a comment